Mau'idhah Hasanah oleh HABIB JINDAN BIN NOVEL BIN SALIM BIN JINDAN
MAJLIS DZIKIR MAULIDURRASUL SAW & HAUL AKBAR PONPES ASSALAFI AL FITHRAH METESEH SEMARANG
AHAD PAGI, 10 AGUSTUS 2025 (16 SHOFAR 1447 H)
Wasiat Al-Qur'an:
Mengikuti Jejak Kaum Inabah dan Shalihin
Habib Jindan mengawali
dengan firman Allah dalam Al-Qur'an, "wattabi' sabila man anaba
ilaiya" (Ikuti jalan orang-orang yang selalu ber-inabah
[kembali/merujuk] kepada Allah Taala).
Menelusuri jejak ini
berarti mengikuti jalan Kiai Utsman dan Kiai Asrari, yang mana mereka juga
mengikuti jalan guru-guru mereka, jalan para Auliya dan Shalihin
(orang-orang saleh), dan tidak diragukan lagi, mengikuti jalan Nabi Besar
Muhammad SAW.
Manaqib: Ajaran
Al-Qur'an dan Hadis untuk Mengidolakan Kekasih Allah
Allah SWT menanamkan
kecintaan dan kewajiban untuk mengidolakan serta mengagungkan para kekasih-Nya.
Al-Qur'an dipenuhi dengan sebutan tentang para Nabi, Rasul, dan Auliya.
- Manaqib dalam Al-Qur'an: Allah berfirman, "Wazkur fil kitab
Ibrahim" (Ceritakan, sebutkan di dalam Alkitab tentang Ibrahim).
Bahkan, kisah Maryam binti Imran, yang bukan seorang Nabi atau Rasul,
diceritakan secara mendalam (manaqib) oleh Allah. Begitu pula manaqib
Ashabul Kahfi, yang diceritakan untuk kita contoh dan tiru.
- Manaqib dalam Hadis: Di dalam Shahih Al-Bukhari, terdapat
bab-bab khusus tentang manaqib, seperti Manaqibil Hasan wal
Husain, Manaqibil Anshar, Manaqib Fatimatuz Zahra, dan Manaqib
Abdullah bin Umar.
Mengkaji manaqib (Auliya
dan Shalihin) adalah pelajaran (ibrah) bagi orang yang berakal.
Para ulama dan wali dari umat Nabi Muhammad SAW bahkan memiliki kedudukan yang
lebih mulia dari ulama dan wali umat sebelumnya, sebagaimana sabda Rasulullah, "Ulama
ummati ka anbiyaai bani Israil" (Para ulama dari umatku bagaikan para
Nabi dari kalangan Bani Israil).
Keharusan Akurasi (Nabaahum
Bil Haq)
Ketika menceritakan
riwayat hidup para wali, wajib dilakukan "nabaahum bil haq"
(dengan benar dan akurat). Hal ini sejalan dengan kaidah "As-sanad
minaddin" (Sanad adalah bagian dari agama). Sebab, cukuplah seseorang
dicap sebagai pendusta hanya dengan menceritakan apa pun yang ia dengar tanpa
mencari keakuratan dan kebenarannya.
Cinta sebagai Baterai
Keimanan
Habib Jindan menjelaskan
bahwa cinta kepada Auliya dan Shalihin adalah inti dari keimanan:
- Ikatan Iman Terkuat: Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad
menyatakan bahwa cinta kepada mereka adalah agamanya, kewajibannya,
sunahnya, dan tali penghubung keimanan yang paling kuat ('urwatial
wutsqa). Rasulullah SAW bersabda, rantai iman yang paling kuat adalah "Al-Hubbu
fillah wal Bughdhu fillah" (Cinta karena Allah dan benci karena
Allah). Cinta ini adalah "baterai" yang menguatkan semua ibadah,
mulai dari salat, puasa, dan zikir.
- Teladan Abu Bakar Ash-Shiddiq: Keunggulan Sayyidina Abu Bakar di atas para
sahabat adalah karena ada "sesuatu yang kuat di dalam hatinya,"
yaitu kecintaan yang luar biasa kepada Nabi Muhammad SAW. Karena besarnya
cinta dan rindu, beliau wafat sebagai Syahidul Mahabbah (Syahid
karena Cinta), yang bahkan aroma napasnya tercium seperti hati yang
terbakar panas.
Adab dan Rasa Hormat
kepada Orang Saleh
Islam mendidik umatnya
dengan etika dan rasa hormat (respek) kepada para pendahulu.
- Pesan Rasulullah kepada Uwais Al-Qarni: Rasulullah SAW memerintahkan Sayyidina Umar
dan Sayyidina Ali untuk mencari seorang tabi'in bernama Uwais
Al-Qarni, menyampaikan salam dari Rasulullah, dan meminta Uwais untuk
mendoakan ampunan bagi mereka. Hal ini mengajarkan untuk mencari barakah
dan respek, bahkan kepada mereka yang junior.
- Adab Sayyidina Umar: Sayyidina Umar bin Khattab pun meminta izin
kepada Rasulullah SAW ketika hendak menunaikan haji, padahal haji adalah
kewajiban. Nabi SAW menjawab, "La tansani min duaika ya akhi"
(Jangan lupakan aku dari doamu wahai saudaraku).
Menjaga Warisan Cinta
Habib Jindan menekankan
bahwa memiliki guru seperti Kiai Asrori dan Kiai Utsman, yang mengajarkan cinta
kepada Allah, Rasulullah, para sahabat, Ahlul Bait, ulama, dan Auliya,
adalah sebuah keberuntungan. Mengadakan majelis dan haul untuk para Auliya
(seperti Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Wali Songo, dll.) menanamkan kecintaan
kepada orang-orang mulia.
Cinta kepada para wali
adalah anugerah dan merupakan kecerdasan (intelektual), bukan hal yang
terbelakang (kampungan), karena hal itu diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Penutup
Kita berharap kelak di
Hari Kiamat akan dikumpulkan bersama orang-orang saleh yang kita cintai.
Sebagai penutup, Habib Jindan mengutip teladan Sayyidina Ali bin Abi Thalib
yang tetap menyebut kelompok yang memberontak dan memeranginya (Khawarij)
sebagai "Hum ikhwanuna bagu alaina" (Mereka adalah
saudara-saudara kita yang memberontak kepada kita), menunjukkan akhlak mulia.
Doa penutup disampaikan agar kita semua diberikan kesehatan, keberkahan, dan agar negeri ini dijadikan negeri yang makmur, aman, damai, serta dijauhkan dari fitnah, bala, dan bencana.
Sumber : Channel YT Alwava ,
Link Full Video Mauidhoh
Pertanyaan, kerjasama, atau laporan konten hubungi kami:
Email : ngaji.anina99@gmail.com
Tiktok : @anina99dotcom
Whatsapp : +62 895-6117-07936
@anina99dotcom Cinta kepada Para Kekasih Allah adalah Mata Rantai Iman Terkuat Mau'idhah Hasanah oleh HABIB JINDAN BIN NOVEL BIN SALIM BIN JINDAN MAJLIS DZIKIR MAULIDURRASUL SAW & HAUL AKBAR PONPES ASSALAFI AL FITHRAH METESEH SEMARANG AHAD PAGI, 10 AGUSTUS 2025 (16 SHOFAR 1447 H) selengkapnya di anina99.com/s/haulmeteseh25 sumber: YT @alwavamedia #alkhidmahindonesia #alkhidmahsemarang #ukhsaficoplercommunity #majlisdzikir #sholawat ♬ suara asli - anina

No comments:
Post a Comment